Kamis, 15 April 2010

Tentang Aku

TENTANG AKU

(Buat Pembaca, Sang Rembulan Kalbu)

Andaikan terbayang bagimu wahai pembacaku,

kalau aku seorang yang bahagia,

mungkin itu hanya kesalahan dalam sangka.

Walau setiap kata-kataku membuatmu tersenyum

dan setiap keinginanku membuatmu tertawa,

namun disudut lain yang tak kau dengar,

sesungguhnya lara itupun pernah ada.

Mungkin nanti di satu ketika,

sempatnya aku bercerita,

akan kuurai bagi mu semua rahasia,

dalam bentuk duka dan nestapa.

Yang akan membuatmu

harus berkata dalam tanya :

“(Kala engkau bertutur kepadaku

dengan kata terindah

yang bisa kau ucapkan lewat bibirmu,

namun kenapa tetap hanya kepedihan

yang terungkap dalam baitmu?)”

Sebenarnya tak ada yang salah dengan hal itu, Pembacaku.

Sebab boleh dan bisa saja

penderitaan itu terucap dengan indah.

Karena kadang-kadang kepedihan-kepedihanmu

adalah obat paling manjur untuk menyembuhkan

semua penyakit yang ada dihati dan perasaanmu!

Tetapi andaikan begini kata kudengar :

(Tidakkah semua yang kau berikan

hanyalah suatu harapan?

Harapan yang di suatu saat

bisa melambungkanku menggapai langit

namun yang sebelum kumenyadarinya

telah kembali menghunjamkanku jauh ke dasar bumi?)

Yang ku bisa hanya sarankan kepadamu :

“Teruslah melangkah di pelataran harapan wahai rembulanku,

sebab harapan akan lebih berarti dibanding pemenuhan.

Kala semua harapan telah terpenuhi,

hanya keletihan yang membalut jiwa,

yang akan membuatmu tak berdaya,

menjelang datangnya sebuah harapan baru.”

(Rasanya yang kumiliki hanyalah penantian,

penantian yang tak akan pernah mengenal titik akhirnya.

Kapankah penantian itu akan larut dalam penyaksian,

wahai Jiwa yang tak nyata?

Saat kita merengkuh segala keindahan

dalam pesona rupa raga kita?)

Andaikan itu yang engkau damba,

memang tak kan sanggupnya aku berbuat,

selain hanya seuntai kata untuk jawaban :

“Keindahanmu dan keindahanku

bak puisi wahai rembulanku,

dapat dirasakan namun tak bisa disaksikan.

Bersebab itulah aku lebih suka

berada dalam perasaan

dan tiada dalam penyaksian,

sebab penyaksian itu

sementara dan punya batasan.

Hanya yang kita rasakan tanpa nyatalah

yang bisa melampaui dimensi tak berhingga.

Sebagaimana aku merasakan keindahanmu!”

Engkau tunggulah kehadiranku di lain waktu,

meski hanya berupa kata tergurat,

namun semua itulah tentang aku,

yang selama ini belum pernah engkau tahu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar